Terpancar sinar mentari dari ufuk timur di penghujung lautan, yang memancarkan sinar merahnya menghiasi cakrawala. Dari ketinggian kayu pohon kemuning tampak tubuh yang sedang duduk dalam kesunyian. Dengan wajah lesu sembari mengayun - ayunkan kedua kakinya. Ratapan mata tajam sambil tersenyum ke arah matahari terbit. Ialah Alan ,seorang pemuda biasa dari desa.

Alan, yang duduk sembari memetik dedaunan pohon kemuning, teringat sebuah kenangan manis senyuman seorang gadis cantik yang ia kenal dari temannya Adi, teman dekat Alan yang selalu mengajaknya berjalan - jalan menyusuri setiap sudut sekolah.

***

Suatu ketika di sebuah sekolah yang bernama SMPN 3 MANGGIS, Sebuah sekolah yang berada di pedalaman pelosok desa. Di depan pintu gerbang terlihat Alan dan Adi yang sedang asik berbincang sesuatu.

“Hey lan, lagi ngapain lo disini.” ucap Adi sambil tersenyum menatap alan yang membisu.

“Lagi gak enak badan nih.” jawab Alan dengan suara lesu.

“Aduh, daripada lo disini sendirian mending ikut gue.” ucap Adi sembari mengajak Alan.

“Kemana ?” tanya Alan kebingungan.

“Ya ikutin aja gue.” ucap Adi sambil menarik tangan alan.

Kedua orang itupun meninggalkan gerbang depan sekolah dan menuju ke arah utara, dimana sebuah tempat yang tidak asing lagi bagi mereka berdua yaitu sebuah tempat mengadu dulu pada waktu kelas 8/2SMP.

Di depan pintu gerbang tiba - tiba dua orang wanita cantik datang menghampirinya dan menyapa.

“Hey adi.” ucap kedua gadis itu.

“hey linda,hey pebri.” jawab adi tersenyum.

“Lagi ngapain lo kesini.” tanya linda kepada adi.

“ya jalan - jalan ,hehehe.” ucap adi sambil tertawa.

“wewewe, gua lo sempakin,lo gak inget ma gue.” ucap alan menyela percakapan.

“hehehe, gue lupa.” ucap adi sambil tertawa.

“Hem btw, dia siapa di ?” tanya seorang gadis bernama pebri kepada adi.

“oh dia, dia valak peb,hehehe, bercanda kenalin dia Alan. Teman kelas gue.” ucap adi sambil menepuk punggung alan.

“oh, hem kenalin gue pebri.” ucap gadis itu sembari menjulurkan tangan kanan dan tersenyum kepada alan.

Alanpun seakan tenggelam dalam kedamaian dan kebahagiaan yang tak terhingga ,dengan melihat wajah cantik dengan senyuman ditambah lesung pipi yang menghiasi wajah gadis itu. Jantungnya berdetak kencang, makin lama suara nafasnya semakin tak beraturan, wajah memerah serta tubuh yang menggigil kedinginan. Tetapi didalam hatinya hangat bagaikan sinar mentari memecah kedinginan. Alan yang tadinya tidak enak badan tiba - tiba tidak enak pikiran, lantaran dibayangi rasa cinta yang terbelenggu menyusup di hatinya.

“wew, jawab dong.” sela gadis itu memecah lamunan alan.

“i. . . .i . . .i. . .a, salam kenal, nama gue alan, made alan lintang riadi.” jawab alan yang terlihat kegugupan.

Tet. . . . Tet . . . Tet ,suara bel memanggil mereka, seakan menyela percakapan yang tertunda dari dua pasangan insan yang berbahagia.

“Da alan. . . . . . ” ucap pebri sembari melambaikan tangannya.

“Da peb. . .” balas alan.

* * *

“wew, kayaknya ada anu nih.” ucap adi sambil tersenyum.

“anu apa ?” tanya alan kebingungan.

“ah sudahlah,bilang aja lo suka,cie cie ada anu dibalik anu.” ucap adi sambil tertawa.

“ah sudah - sudah ,yuk keselatan.” ucap adi sambil mengajak alan.

“okeh njeng.” jawab alan sembari mengejek adi.

“njeng ndasmu.” balas adi.

Mereka berduapun meratap pergi menuju ke arah selatan. Tempat dimana mereka mengadu.

Tidak terasa lamunan dalam kesunyian diatas pohon kemuning redup seketika, karena sengatan sinar matahari di atas cakrawala yang meninggi menembus kulitnya yang membangunkan lamunannya. Matahari mulai meninggi menunjuk pukul jam 12 siang . Akhirnya alan turun dengan melompat dari pohon itu, dan kakinyapun menyentuh tanah yang di tumbuhi rerumputan, dan pergi menjauh meninggalkan pohon kemuning.