Ini hanyalah karangan fiktif,semata hanya buat menghibur serta menasehati kalian yang membaca,semog kalian tidak lupa akan kewajiban mengambil sendiri dan tidak lupa akan barang dan sebagainya,yang mau baca silakan.

Genangan air tampak dimana mana,lepas dari hujan yang mengguyur desa yang sunyi dipedalaman kota. Terasa sejuk dan kulihat pepohonan dan bebatuan,dari kejauhan tampak andi yang sedang duduk melamun diteras dekat rumahku.

"Di, ngapain kamu duduk melamun seperti itu" (tanyaku sambil menatapnya yang terlihat sangat lesu.) "ya de,emang ada apa kamu kesini." seakan andi tidak mau memberitahukan apa yang sedang dia rasakan dan sambil menghapus genangan air mata yang menempel dimukanya. "ya di,gini di aku keseni mau curhat di,mau gak kamu nemenin aku sebentar." "hehehe boleh,yuk didalem gak enak kalau bicara diluar." sambil meloncat turun dari teras yang kira - kira tingginya 200 meter.

Andi dengan senang hati memperbolehkan aku untuk memasuki rumahnya,dengan biasa aku berjalan dan menoleh disetiap sudut rumahnya yang sederhana bernuansa bali moderen. "eh made, ada apa de sini duduk,mau apa de teh ,kopi,apa susu." Dengan suara yang lembut dan rahahnya ala seorang ibu menyambut kedatanganku dirumah tersebut. "oh,maaf bi ngerepotin,teh aja,kalau gak ada teh susu aja." "hahaha de bisa aja. Ok bibi siapin,tunggu bentarya." aku tidak mengerti apa yang diucapkan ibunya andi,entahlah sambil menunggu tiba tiba "bha,alah kamu ngelupain aku ya,oh mau curhat apa de." Kaget aku rasakan seakan jantungku mau copot dari tubuh ini,sambil was wasan aku berkata "eh susu eh susu,ente di kalau mau nakitin bilang dulu dong,oh gini di.. . . . . . ." "et et et et,lagi ngomongin apa nih." Nenek adi datang seakan memotong pembicaraan kami berdua. "eh nenek simade belum selesai ngomong udah nenek potong. " "maaf di,lanjutin aja mau bicara apa." "Wah rasanya hampir malam nih nanti ibu marah lagi, aku pamit dulu ya nek ,da di." sambil menatap langit dan suasana diluar yang gelap gulita,akupun cabut lari. "eh de sendalnya ketinggalan." kata nenek adi yang memberi tahu kalau sendalku ketinggalan.

Seperti aku tah menghiraukan perkataan nenek yang samar samar dari kejauhan. Ku tetap berlari menuju kerumah tempatku tidur,terasa takut karena ku sendiri,suasana sepi dan sunyi. Setiba dirumah "eh de sendalnya mana,kok gak make sendal." Suara ibu yang tiba - tiba membuat ku kaget lantaran sendal berwarna putih itu tertinggal dirumah adi. "waduh sendalku,aku pergi dulu bu." "kemana." "mau ambil sendal." sambil berlari sekuat tenaga karena takut nanti dimakan valak. Jarak rumah adi dari rumahku cukup jauh kira kira 2 kilo meter,lantaran jauhnya membuat ku capek dan was wasan aku berhenti sejenak dan duduk di gubuk yang sepi dan sunyi. Seakan tak menghiraukan keadaan yang gelap gulita yang menyinari hanya temparan sinar bulan purnama yang terang.

Aku duduk dan larut dalam kesunyian,ku tatap disekitar area pegunungan yang cukup luas nan indah bila dimalam hari. Suara gemercik air yang membuatku terdiam dalam kegelapan. Suara jangrik berdering seakan mengusik telinga ini dan menemani di malam yang sunyi. Jauh dari keramaian kota yang penuh kebisingan membuatku tenang dan larut dalam angan -angan. Tak lama ku menikmati suara,keindahan,dan gemercik air yang iklas menemaniku tiba - tiba "bhar." "eh sate kambing.. . . . " cebur. . . Suara itu mengagetkan ku dari belakang sampai sampi pakaianku basah lantaran kecebur diselokan. "hahahahaha,kamu gak papa de,maaf,sori de." sambil tertawa jahat ternyata itu andi aku kira setan valak bermuka dua. "dasar falak,gue kaget nih tong, ente ngapain ke sini." sambil marah dan mendekati andi yang masih tertawa jahat melihat aku tercebuh disungai. "hahahaha kamu sih melamun ,kamu ngapain tuh de sendirian disini. " "entahlah,aku terlalu enak menatap pemandangan panorama sawah yang luas dimalam ini,tumben." "oh,gue kira ente valak yang sedang mancing." "arah,mancing endaslo,btw ente ngapain kesini,bikin kaget aja." "hahahahaha,nih sendal lo yang ketinggalan tadi sore. " "waduh tri. . . . " "wakakakakabur,sampai jumpa de besok." "dasar otong,padahal gue mau ngasih uang,ah sudahlah." "we asas." "ahhhh." "dasar anak bangsat." "woe sialan kepala botak,valah baju gue basah nih."

Seakan tak menghiraukan perkataanku orang tua itu tetap mengayuh sepeda butut jaman 45,sambil tertawa jahat meninggalkanku Dalam kebasahan. "untung sendal gue gak kebawa aruh,awas lo ya." "emak,emak,mamak. . . . . Ayam" sambil menangis ku berlari meninggalkan kesunyian dan indahnya malam.